Kamis, 16 Mei 2013

Long Distance Relationship



Sekarang itu memang sedang musimnya anak muda yang kenalan lewat jejaring sosial. Tapi aku tidak terlalu tertarik dengan facebook, aku lebih menyukai twitter karena menurutku di twitter itu bisa lebih leluasa, tanpa ada orang yang nimbrung sembarangan. Tapi bukan berarti aku gak punya facebook loh. Aku juga punya facebook, sering dibuka tapi cuma online aja, jarang chat sama orang lain apalagi yang belum dikenal. Tapi facebook ini juga yang pertama kali ngenalin aku dan pacarku. Bukan pacar pertama memang, tapi ini pertama kalinya aku pacaran jarak jauh.

             Seperti biasa facebook-ku selalu online. Banyak friend request yang belum aku konfirm, sambil iseng aku konfirm deh orang-orang yang nge-send friend requet. Tapi gak semuanya, aku cuma ngekonfirm orang-orang yang aku kenal aja. Aku memang lebih memilih-milih teman di facebook karena sudah banyak contoh orang yang diculik lewat jejaring sosial ini. Aku adalah orang yang lebih suka sendiri daripada keramaian. Aneh memang untuk anak seusiaku yang harusnya senang dengan dunia luar. Tapi ya mau gimana lagi, ini memang sifatku.

            Tidak lama setelah aku mengkonfirmasi friend request, ada orang yang mengirim inbox. Aku ingat, dia adalah kakak kelasku saat SMP, tapi kalau tidak salah sekarang dia sekolah diluar kota. Aku memang tidak terlalu hafal dan akrab dengan kakak kelas, aku hanya tau dan mengenal namanya saja. Aku pun membalas inbox dari kakak kelas itu, samapai akhirnya kita larut dalam percakapan panjang samapi akhirnya kakak itu meminta nomer handphoneku dan mengakhiri percakapan.

            Semakin hari hubungan kami semakin dekat, dia sering bercerita tentang guru-guru yang ada di SMP. Semakin lama aku mulai merasakan nyaman ketika aku smsan dengan kakak kelasku itu. Dari tampangnya dia memang seperti orang yang serius, tapi ternyata aku salah sangaka. Dia adalah orang paling asik yang pernah ku kenal. Selain asik, dia juga perhatian. Oh jangan samapi aku salah mengartikan perhatiannnya.

            Hari berganti minggu, sampai akhirnya dia menembakku di telepon. Aku terdiam. Lalu bingun. Tersenyum. Dan akupun menjawabnya. Oh aku masih speechless dengan semua ini. Aku tidak menyangka endingnya akan seperti ini. Tapi ada sesuatu yang jadi permasalahanku. Jarak. Aku dan dia tinggal dikota yang berbeda. Aku di kota hujan sedangkan dia di kota pendidikan. Ya, Bogor dan Jogja. Tapi aku tidak terlalu menjadikannya beban. Bukankah angka dalam cinta tidak berlaku?

            Semakin hari kita semakin romantis. Walaupun jarak membentang diantara kita, itu bukanlah suatu masalah. Asalkan kita bisa menjaga kepercayaan satu sama lain. Dia banyak cerita tentang Jogja. Jogja adalah kota yang selama ini aku impikan. Sejak SMP aku sangat ingin meneruskan kuliahku di salah satu Universitas yang ada di kota pendidikan itu. Tapi sepertinya itu hanya akan menjadi angan-angan semata. Karna orang tuaku tak mengizinkan aku kuliah disana. Khawatir katanya, karna aku seorang perempuan.

            Minggu berganti bulan. Tak terasa sudah hampir 3 bulan aku berpacaran dengan kakak kelasku itu. Tapi, sekarang ada yang berbeda. Tak ada lagi perhatian seperti dulu. Memang, sekarang dia sedang sibuk dengan kuliahnya. Jadi dia lebih fokus dengan pekerjaannya dibanding aku. Tapi itupun bukan masalah, toh dia seperti itupun demi masa depannya.

            Dulu inbox handphoneku penuh dengan sms darinya. Tapi sekarang? Hanya beberapa sms setiap hari yang bisa dihitung oleh jari. Miris memang. Tapi apa boleh buat? Aku hanya bisa diam. Menunggu sosoknya kembali lagi seperti dulu. Ini adalah pertama kalinya aku berpacaran jarak jauh, atau anak muda zaman sekarang menyebutnya LDR. Ya, Long Distance Relationship.

            Baru kali ini aku berpacaran serius. Biasanya aku hanya sekedar iseng menerima laki-laki yang menembakku. Mungkin aku bisa dibilang playgirl. Tapi entah apa yang membuatku menjadi berubah. Entah apa yang membuatku bertahan dengan kakak kelasku ini. Padahal dulu aku paling tidak suka jika berpacaran tapi jarang bertemu, apalagi kontekan.

            2 Februari 2013 bisa dibilang hari yang sangat special untukku. Ya, pacarku mengunjungiku disini. Di memang pernah berjanji akan menemuiku. Dan sekaranglah saatnya. Aku mengajaknya berkeliling kota. Kita bercerita tentang zaman kita SMP dulu. Banyak hal yang kita bicarakan. Hingga tak sadar bahwa hari sudah larut sore.

            Setelah pertemuan itu tidak ada yang berubah. Dia masih tetap saja dingin. Bahkan kadang sekarang dia tak memberiku kabar. Oh miris memang. Tapi entahlah, aku merasa aku tidak ingin kehilangannya. Entah apa yang membuat aku mampu bertahan hingga sekarang. Cinta? Tentu saja.

            Aku mulai bingung dengan sikapnya. Akupun memberanikan diri untuk mengirim pesan padanya dan menanyakan kejelasan hubungan aku dengannya. Dan apa jawabannya? Dia mengakhiri hubungan ini dengan alasan ingin fokus dengan kuliah dan pekerjaannya. Aku terdiam. Sesak. Lalu menangis.

            Lalu untuk apa selama ini aku bertahan? Untuk apa selama ini aku menunggunya? Se-miris inikah LDR pertamaku? Entahlah. Aku bingung dengan perasaanku senidiri. Apakah aku harus sedih? Apa aku harus bahagia karena sekarang aku tidak perlu repot-repot menghawatirkannya?

            Mungkin benar, sekuat apapun kita berpacaran jarak jauh, harus membutuhkan hati yang benar-benar kuat dan sabar. Mungkin ini akan menjadi pengalaman paling berharga dalam hidupku.

Tapi, apakah akan ada LDR selanjutnya? Entahlah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar