Sepasang sudut bibir terangkat menjadi senyuman
Senyuman manis yang telah lama aku kenal
Senyuman indah yang selalu terlihat tulus
Senyuman yang aku tahu pasti hanya untukku
Namun, ketika aku menoleh ke belakang
Mengapa ada orang lain dibelakangku?
Yang sedang membalas senyum ke arahmu
Ke arahmu yang ku kira sedang tersenyum ke arahku
Hatiku seperti ditusuk
Mataku terasa terbakar
Tubuhku bergetar hebat
Dan otakku tidak bisa mencerna apa yang terjadi
Mengapa harus orang lain yang menjadi alasanmu tersenyum?
Mengapa bukan aku?
Inikah yang selama ini orang-orang katakan?
Inikah yang mereka sebut cemburu?
Permata Keristiya's
Selasa, 19 November 2013
Kamis, 16 Mei 2013
Long Distance Relationship
Sekarang itu memang sedang musimnya anak muda yang
kenalan lewat jejaring sosial. Tapi aku tidak terlalu tertarik dengan facebook,
aku lebih menyukai twitter karena menurutku di twitter itu bisa lebih leluasa,
tanpa ada orang yang nimbrung sembarangan. Tapi bukan berarti aku gak punya
facebook loh. Aku juga punya facebook, sering dibuka tapi cuma online aja,
jarang chat sama orang lain apalagi yang belum dikenal. Tapi facebook ini juga
yang pertama kali ngenalin aku dan pacarku. Bukan pacar pertama memang, tapi
ini pertama kalinya aku pacaran jarak jauh.
Seperti
biasa facebook-ku selalu online. Banyak friend request yang belum aku konfirm,
sambil iseng aku konfirm deh orang-orang yang nge-send friend requet. Tapi gak
semuanya, aku cuma ngekonfirm orang-orang yang aku kenal aja. Aku memang lebih
memilih-milih teman di facebook karena sudah banyak contoh orang yang diculik
lewat jejaring sosial ini. Aku adalah orang yang lebih suka sendiri daripada
keramaian. Aneh memang untuk anak seusiaku yang harusnya senang dengan dunia
luar. Tapi ya mau gimana lagi, ini memang sifatku.
Tidak
lama setelah aku mengkonfirmasi friend request, ada orang yang mengirim inbox.
Aku ingat, dia adalah kakak kelasku saat SMP, tapi kalau tidak salah sekarang
dia sekolah diluar kota. Aku memang tidak terlalu hafal dan akrab dengan kakak
kelas, aku hanya tau dan mengenal namanya saja. Aku pun membalas inbox dari
kakak kelas itu, samapai akhirnya kita larut dalam percakapan panjang samapi akhirnya
kakak itu meminta nomer handphoneku dan mengakhiri percakapan.
Semakin
hari hubungan kami semakin dekat, dia sering bercerita tentang guru-guru yang
ada di SMP. Semakin lama aku mulai merasakan nyaman ketika aku smsan dengan
kakak kelasku itu. Dari tampangnya dia memang seperti orang yang serius, tapi
ternyata aku salah sangaka. Dia adalah orang paling asik yang pernah ku kenal.
Selain asik, dia juga perhatian. Oh jangan samapi aku salah mengartikan
perhatiannnya.
Hari
berganti minggu, sampai akhirnya dia menembakku di telepon. Aku terdiam. Lalu
bingun. Tersenyum. Dan akupun menjawabnya. Oh aku masih speechless dengan semua
ini. Aku tidak menyangka endingnya akan seperti ini. Tapi ada sesuatu yang jadi
permasalahanku. Jarak. Aku dan dia tinggal dikota yang berbeda. Aku di kota
hujan sedangkan dia di kota pendidikan. Ya, Bogor dan Jogja. Tapi aku tidak
terlalu menjadikannya beban. Bukankah angka dalam cinta tidak berlaku?
Semakin
hari kita semakin romantis. Walaupun jarak membentang diantara kita, itu
bukanlah suatu masalah. Asalkan kita bisa menjaga kepercayaan satu sama lain.
Dia banyak cerita tentang Jogja. Jogja adalah kota yang selama ini aku impikan.
Sejak SMP aku sangat ingin meneruskan kuliahku di salah satu Universitas yang
ada di kota pendidikan itu. Tapi sepertinya itu hanya akan menjadi angan-angan
semata. Karna orang tuaku tak mengizinkan aku kuliah disana. Khawatir katanya,
karna aku seorang perempuan.
Minggu
berganti bulan. Tak terasa sudah hampir 3 bulan aku berpacaran dengan kakak
kelasku itu. Tapi, sekarang ada yang berbeda. Tak ada lagi perhatian seperti
dulu. Memang, sekarang dia sedang sibuk dengan kuliahnya. Jadi dia lebih fokus
dengan pekerjaannya dibanding aku. Tapi itupun bukan masalah, toh dia seperti
itupun demi masa depannya.
Dulu
inbox handphoneku penuh dengan sms darinya. Tapi sekarang? Hanya beberapa sms
setiap hari yang bisa dihitung oleh jari. Miris memang. Tapi apa boleh buat?
Aku hanya bisa diam. Menunggu sosoknya kembali lagi seperti dulu. Ini adalah
pertama kalinya aku berpacaran jarak jauh, atau anak muda zaman sekarang
menyebutnya LDR. Ya, Long Distance Relationship.
Baru
kali ini aku berpacaran serius. Biasanya aku hanya sekedar iseng menerima
laki-laki yang menembakku. Mungkin aku bisa dibilang playgirl. Tapi entah apa
yang membuatku menjadi berubah. Entah apa yang membuatku bertahan dengan kakak
kelasku ini. Padahal dulu aku paling tidak suka jika berpacaran tapi jarang
bertemu, apalagi kontekan.
2
Februari 2013 bisa dibilang hari yang sangat special untukku. Ya, pacarku
mengunjungiku disini. Di memang pernah berjanji akan menemuiku. Dan sekaranglah
saatnya. Aku mengajaknya berkeliling kota. Kita bercerita tentang zaman kita
SMP dulu. Banyak hal yang kita bicarakan. Hingga tak sadar bahwa hari sudah
larut sore.
Setelah
pertemuan itu tidak ada yang berubah. Dia masih tetap saja dingin. Bahkan
kadang sekarang dia tak memberiku kabar. Oh miris memang. Tapi entahlah, aku
merasa aku tidak ingin kehilangannya. Entah apa yang membuat aku mampu bertahan
hingga sekarang. Cinta? Tentu saja.
Aku
mulai bingung dengan sikapnya. Akupun memberanikan diri untuk mengirim pesan
padanya dan menanyakan kejelasan hubungan aku dengannya. Dan apa jawabannya?
Dia mengakhiri hubungan ini dengan alasan ingin fokus dengan kuliah dan pekerjaannya.
Aku terdiam. Sesak. Lalu menangis.
Lalu
untuk apa selama ini aku bertahan? Untuk apa selama ini aku menunggunya?
Se-miris inikah LDR pertamaku? Entahlah. Aku bingung dengan perasaanku
senidiri. Apakah aku harus sedih? Apa aku harus bahagia karena sekarang aku
tidak perlu repot-repot menghawatirkannya?
Mungkin
benar, sekuat apapun kita berpacaran jarak jauh, harus membutuhkan hati yang
benar-benar kuat dan sabar. Mungkin ini akan menjadi pengalaman paling berharga
dalam hidupku.
Tapi, apakah akan ada LDR selanjutnya? Entahlah.
Jumat, 10 Mei 2013
Jika
Mengapa harus ada airmata?
“Jika” bahagia lebih indah.
Mengapa harus ada hitam?
“Jika” putih menyenangkan.
Mengapa harus ada cinta?
“Jika” jelas membawa luka.
Mengapa harus ada harapan?
“Jika” sudah jelas harapan tak akan sesuai
kenyataan.
Begitulah hidup. “jika” kita mencoba bertahan,
selalu ada rintangan yang mengahalang.
Tapi “jika” kita mencoba untuk melupakan. Bukankah
itu sulit?
Membingungkan memang, tapi itulah kehidupan.
Yang harus kita percaya adalah, “jika” semua akan
indah pada waktunya.
Kamis, 09 Mei 2013
Life Must Go On
Hidup itu memang penuh kejutan. Kadang kejutan itu
datang disaat yang tidak tepat. Tapi tidak semua kejutan mebawa bahagia, ada
juga kejutan yang datang membawa luka. Ya, begitulah hidup.
***
Pria :
Hai, aku kembali.
Wanita :
Selamat datang dikehidupanku, lagi.
Pria :
Tapi aku datang membawa sesuatu.
Wanita : Apa?
Hadiah untukku?
Pria :
Bukan.
Wanita : Lalu?
Pria : Aku
membawa sebuah kabar yang bisa dibilang menyedihkan.
Wanita : Kabar
apa? Ayolah jangan membuatku penasaran.
Pria : Aku
datang kembali kesini bersama kekasih baruku, dia adalah orang di masalaluku, jauh sebelum aku mengenalmu.
Wanita : Oh
bukankah itu berita bahagia?
Pria : Apa
kamu tidak sedih? Kenapa kamu tidak marah?
Wanita : Untuk apa aku sedih? Untuk apa aku marah?
Jika memang itu keputusanmu, pergilah. Jangan hiraukan aku.
Pria :
Tapi bukankah selama ini kamu menungguku? Menantiku kembali dan mengulang semua kisah kita dari awal?
Wanita : Ya,
itu memang harapanku selama ini. Tapi aku paham, kadang harapan tak sesuai dengan kenyataan.
Pria :
Maafkan aku..
Wanita : Tak
perlu minta maaf, aku tau kamu datang untuk pergi lagi. Ohya aku juga tau semua omongan laki-laki memang tak bisa
diercaya.
Pria :
Tapi aku tak se-bejad itu.
Wanita : Tapi
buktinya? Sudahlah pergi saja. Jika memang dia alasanmu bahagia, kenapa harus memperdulikanku?
Pria :
Baiklah aku akan pergi.
***
Dari cerita diatas kita bisa lihat
kadang harapan tak sesuai dengan kenyataan. Tapi begitulah hidup. Bahagia itu
kita yang menciptakan. Mungkin dengan cara mengikhlaskan seseorang yang kita
cintai pergi, itualah cara kita bahagia. Bukan bahagia karna kita melihat dia
pergi. Tapi kita harus yakin bahawa kita akan menemukan sesorang yang baru,
yang mampu mebuat kita bahagia.
Ayolah
ledies! Perjalanan kita masih panjang! Jangan terus terpuruk karna masalalu.
Mungkin tuhan sengaja membiarkan dia pergi karna tuhan telah memberikanmu
seseorang yang lebih dari dia. Kapan kamu akan maju jika kamu hanya diam
dimasalalu? Ayolah buka mata dan hatimu. Percayalah disetiap luka yang kamu
rasakan, akan ada bahagia yang datang setelah luka itu. Fighting, life must go
on!
Dulu
“Dulu” kamu adalah salah satu alasanku bahagia.
Tapi sekarang kamu adalah alasanku menderita.
“Dulu” kamu adalah bagian hidupku.
Tapi sekarang kau pergi membawa sebagian hidupku.
“Dulu” kamu adalah penyemangat bagiku.
Tapi sekarang kamu yang membuatku tak bersemangat.
“Dulu” kamu yang selalu mebuat airmataku menjadi
tawa.
Tapi sekarang kamu merubah tawaku menjadi airmata.
Aku tau ini “dulu” saat kita masih bersama. “dulu”
saat kita masih saling memiliki.
Hidup itu berputar, ketika sekarang tak bisa seperti
“dulu” apa boleh buat.
Mungkin sekarang kita hanya bisa berharap semoga
sekarang jauh lebih indah daripada
“dulu”
Kenangan Dan Masalalu
Jalan ini begitu berbeda, padahal tak ada yang
berubah. Jalan ini begitu asing karna hanya aku sendiri yang berjalan disini.
Dulu, ada kamu yang selalu menemaniku berjalan di jalan ini. Apakah kamu masih
ingat tampan? Setiap kali aku berjalan disini, tanganmu pasti selalu menggengam
tanganku. Kamu tak pernah benar-benar membiarkanku jalan tanpa kamu. Selalu ada
kamu disampingku yang membuat aku merasa aman. Membuat aku merasa nyaman. Aku
tau ini dulu, dan aku tau itu tidak akan pernah terulang.
Aku
sudah sampai di ujung jalan. Aku melihat sekeliling. Ah itu dia, danau yang
dulu pernah menjadi saksi cintamu padaku. Apa kamu masih ingat saat kamu
pertama kali berjanji padaku disana? Apa kamu masih menepati janji itu tuan
tampan? Oh tentu saja tidak. Sekarang kamu sudah bahagia bersama seseorang yang
menurutmu lebih mampu membuatmu bahagia. Dia melakukan apa yang aku lakukan
padamu dulu, tapi entah apa yang membuatmu lebih memilih dia dibanding aku.
Aku
tidak ingin berlama-lama disini. Aku muak jika harus mengingat semua janji
manis yang kau ucapkan dulu. Aku berjalan hingga aku sampai disebuah toko
parfum. Aku mencoba untuk mecari parfum yang biasa aku pakai. Tapi entah
mengapa aku tidak bisa menemukannya. Dari semua parfum yang aku coba, semua
baunya sama seperti parfum yang selalu kamu pakai. Oh sudahlah, entah indra
penciumanku yang rusak, atau memang aku terlalu merindukan bau itu. Bau yang
selalu mebuatku nyaman saat aku bersandar dipundakmu.
Sudahlah,
aku tidak ingin terlalu lama terjebak dimasa lalu. Aku memutuskan untuk pulang
dan beristirahat. Aku lelah jika semua yang ada dikota ini hanya tentangmu.
Tentang kita, dulu. Entah harus bagaimana aku melupakan semua kenangan indah
bersamamu. Aku tak mungkin sanggup melupakan semua kenangan yang sudah jelas
tidak akan pernah aku ulangi. Kenangan yang hanya ada sekali seumur hidup.
Mengapa
kamar ini juga mengingatkanku padamu? Masih ingatkah kamu saat aku sakit? Kamu
yang selalu menungguku disamping tempat tidur. Menyuapiku saat aku makan.
Memberikan obat padaku. Dan bahkan kamu lebih mementingkan kesehatanku
dibanding kesehatanmu sendiri. Kamu selalu membuatku kuat disaat orang lain
menganggapku lemah. Kamu yang membuatku bertahan menjalani kerasnya hidup ini.
Kamu adalah salah satu alasanku bahagia.
Tapi
itu dulu. Dulu, saat aku dan kamu masih menjadi kita. Saat kamu masih peduli
dengan keadaanku. Tapi sekarang berbeda, kamu sudah bahagia bersama orang lain
sedangkan aku masih menunggu keajaiban agar kamu kembali bersamaku. Aku tau aku
bodoh. Menunggu seseorang yang sudah jelas tidak memperdulikanku. Seseorang
yang membiarkanku terjebak dimasa lalu bersama kenangan indah di dalamnya.
Aku
tau ini berat. Melupakan orang yang sempat hadir di dalam hidupku. Aku tak
sanggup jika harus melupakan semua tentang kita. Aku terlalu mencintaimu hingga
aku tak sanggup membuka hati untuk orang lain. Aku ingin sepertimu yang dengan
mudahnya bisa melupakan kenangan indah bersamaku. Aku lelah jika harus terus
hidup dimasa lalu. Aku ingin merasakan bahagia walau tanpamu.
Sedikit
demi sedikit aku akan mencoba. Sesulit apapun itu aku tau aku bisa. Biarlah itu
tetap menjadi masa lalu. Aku yakin masa depanku lebih indah dari itu. Aku
percaya, semua akan indah pada waktunya. Jika waktunya sudah tepat, aku pasti
bahagia. I believe it..
Langganan:
Postingan (Atom)