Sekarang itu memang sedang musimnya anak muda yang
kenalan lewat jejaring sosial. Tapi aku tidak terlalu tertarik dengan facebook,
aku lebih menyukai twitter karena menurutku di twitter itu bisa lebih leluasa,
tanpa ada orang yang nimbrung sembarangan. Tapi bukan berarti aku gak punya
facebook loh. Aku juga punya facebook, sering dibuka tapi cuma online aja,
jarang chat sama orang lain apalagi yang belum dikenal. Tapi facebook ini juga
yang pertama kali ngenalin aku dan pacarku. Bukan pacar pertama memang, tapi
ini pertama kalinya aku pacaran jarak jauh.
Seperti
biasa facebook-ku selalu online. Banyak friend request yang belum aku konfirm,
sambil iseng aku konfirm deh orang-orang yang nge-send friend requet. Tapi gak
semuanya, aku cuma ngekonfirm orang-orang yang aku kenal aja. Aku memang lebih
memilih-milih teman di facebook karena sudah banyak contoh orang yang diculik
lewat jejaring sosial ini. Aku adalah orang yang lebih suka sendiri daripada
keramaian. Aneh memang untuk anak seusiaku yang harusnya senang dengan dunia
luar. Tapi ya mau gimana lagi, ini memang sifatku.
Tidak
lama setelah aku mengkonfirmasi friend request, ada orang yang mengirim inbox.
Aku ingat, dia adalah kakak kelasku saat SMP, tapi kalau tidak salah sekarang
dia sekolah diluar kota. Aku memang tidak terlalu hafal dan akrab dengan kakak
kelas, aku hanya tau dan mengenal namanya saja. Aku pun membalas inbox dari
kakak kelas itu, samapai akhirnya kita larut dalam percakapan panjang samapi akhirnya
kakak itu meminta nomer handphoneku dan mengakhiri percakapan.
Semakin
hari hubungan kami semakin dekat, dia sering bercerita tentang guru-guru yang
ada di SMP. Semakin lama aku mulai merasakan nyaman ketika aku smsan dengan
kakak kelasku itu. Dari tampangnya dia memang seperti orang yang serius, tapi
ternyata aku salah sangaka. Dia adalah orang paling asik yang pernah ku kenal.
Selain asik, dia juga perhatian. Oh jangan samapi aku salah mengartikan
perhatiannnya.
Hari
berganti minggu, sampai akhirnya dia menembakku di telepon. Aku terdiam. Lalu
bingun. Tersenyum. Dan akupun menjawabnya. Oh aku masih speechless dengan semua
ini. Aku tidak menyangka endingnya akan seperti ini. Tapi ada sesuatu yang jadi
permasalahanku. Jarak. Aku dan dia tinggal dikota yang berbeda. Aku di kota
hujan sedangkan dia di kota pendidikan. Ya, Bogor dan Jogja. Tapi aku tidak
terlalu menjadikannya beban. Bukankah angka dalam cinta tidak berlaku?
Semakin
hari kita semakin romantis. Walaupun jarak membentang diantara kita, itu
bukanlah suatu masalah. Asalkan kita bisa menjaga kepercayaan satu sama lain.
Dia banyak cerita tentang Jogja. Jogja adalah kota yang selama ini aku impikan.
Sejak SMP aku sangat ingin meneruskan kuliahku di salah satu Universitas yang
ada di kota pendidikan itu. Tapi sepertinya itu hanya akan menjadi angan-angan
semata. Karna orang tuaku tak mengizinkan aku kuliah disana. Khawatir katanya,
karna aku seorang perempuan.
Minggu
berganti bulan. Tak terasa sudah hampir 3 bulan aku berpacaran dengan kakak
kelasku itu. Tapi, sekarang ada yang berbeda. Tak ada lagi perhatian seperti
dulu. Memang, sekarang dia sedang sibuk dengan kuliahnya. Jadi dia lebih fokus
dengan pekerjaannya dibanding aku. Tapi itupun bukan masalah, toh dia seperti
itupun demi masa depannya.
Dulu
inbox handphoneku penuh dengan sms darinya. Tapi sekarang? Hanya beberapa sms
setiap hari yang bisa dihitung oleh jari. Miris memang. Tapi apa boleh buat?
Aku hanya bisa diam. Menunggu sosoknya kembali lagi seperti dulu. Ini adalah
pertama kalinya aku berpacaran jarak jauh, atau anak muda zaman sekarang
menyebutnya LDR. Ya, Long Distance Relationship.
Baru
kali ini aku berpacaran serius. Biasanya aku hanya sekedar iseng menerima
laki-laki yang menembakku. Mungkin aku bisa dibilang playgirl. Tapi entah apa
yang membuatku menjadi berubah. Entah apa yang membuatku bertahan dengan kakak
kelasku ini. Padahal dulu aku paling tidak suka jika berpacaran tapi jarang
bertemu, apalagi kontekan.
2
Februari 2013 bisa dibilang hari yang sangat special untukku. Ya, pacarku
mengunjungiku disini. Di memang pernah berjanji akan menemuiku. Dan sekaranglah
saatnya. Aku mengajaknya berkeliling kota. Kita bercerita tentang zaman kita
SMP dulu. Banyak hal yang kita bicarakan. Hingga tak sadar bahwa hari sudah
larut sore.
Setelah
pertemuan itu tidak ada yang berubah. Dia masih tetap saja dingin. Bahkan
kadang sekarang dia tak memberiku kabar. Oh miris memang. Tapi entahlah, aku
merasa aku tidak ingin kehilangannya. Entah apa yang membuat aku mampu bertahan
hingga sekarang. Cinta? Tentu saja.
Aku
mulai bingung dengan sikapnya. Akupun memberanikan diri untuk mengirim pesan
padanya dan menanyakan kejelasan hubungan aku dengannya. Dan apa jawabannya?
Dia mengakhiri hubungan ini dengan alasan ingin fokus dengan kuliah dan pekerjaannya.
Aku terdiam. Sesak. Lalu menangis.
Lalu
untuk apa selama ini aku bertahan? Untuk apa selama ini aku menunggunya?
Se-miris inikah LDR pertamaku? Entahlah. Aku bingung dengan perasaanku
senidiri. Apakah aku harus sedih? Apa aku harus bahagia karena sekarang aku
tidak perlu repot-repot menghawatirkannya?
Mungkin
benar, sekuat apapun kita berpacaran jarak jauh, harus membutuhkan hati yang
benar-benar kuat dan sabar. Mungkin ini akan menjadi pengalaman paling berharga
dalam hidupku.
Tapi, apakah akan ada LDR selanjutnya? Entahlah.